Tuesday, November 2, 2010

CHIMERA, Donny Anggoro



Judul Buku: Chimera
Pengarang: Donny Anggoro
Penerbit: Jalasutra
Jenis: Novel
Cetakan : I, 2008
Ukuran : 12 x 19 cm
ISBN : 979-3684-94-1
__________________

FIKSI ‘FILM LAGA’ AKTIVIS PASCA REFORMASI

Oleh: Yonathan Rahardjo, untuk Donny Anggoro

Chimera adalah karya novel moderen yang terilhami dari film-film laga moderen yang banyak ditayangkan di bioskop 21 dan diulang di televisi. Membaca Chimera terasa bahwa penulisnya adalah maniak penonton film. Adegan-adegan yang ada dalam Chimera mengingatkan pembaca pada semua yang ada di film-film laga itu. Sebutlah tentang kebingungan tokoh yang merasa dirinya adalah orang lain; sebagai penonton film Bourne Identity, penulis merasakan hal tersebut. Demikian juga sebagai penonton film James Bond, dan begitu banyak film laga yang mempunyai stereotipe pergulatan kejar-kejaran dengan mobil, pistol ditembakkan ke mobil di belakangnya, dan bom asap diledakkan. DUAR!!!! Juga pada peledakan Citraksi Laboratories di akhir cerita, sangat terilhami oleh film seperti James Bond yang perlawanan terhadap hal canggih melibatkan laboratorium raksasa.


Donny Anggoro adalah anak jaman ini, maka ilham dari film yang mempengaruhi kesusastraannya sangat sah dan merdeka. Tinggal kepiawaiannya merangkai kata yang menjadi andalan dan pertaruhan pembacaan oleh masyarakat pembaca dan ahli sastra. Juga bagaimana ia sebagai penulis merangkai dengan sejarah bangsanya. Donny mengangkat masalah sesudah kejatuhan rezim pemerintahan yang otoriter masuk masa pemerintahan baru yang harusnya bebas KKN. Jelas ini terilhami oleh rezim Suharto yang jatuh dan masuk masa pemerintahan yang semestinya bersih. Namun tidak rupanya, ada permainan pemerintah Presiden Suryo Laksono yang ingin melanggengkan kekuasaan dengan membuat ketenangan semu. Begitu banyak bekas aktivis yang vokal dikebiri hak demokrasinya. Mereka disuntik dengan serum pengacau ingatan, Chimera sehingga mereka merasa menjadi orang lain, bahkan penjahat, yang dengan mudah jadi kambing hiam perburuan oleh pemerintah

Tujuannya pembungkaman daya kritis yang bersangkutan agar pemerintah itu kelihatannya tenang, tenang dan tenang. Rupanya semua itu palsu, tak beda dengan pemerintah sebelumnya yang otoriter. Dan peran ilmuwan pencipta Chimera pun dipertaruhkan ada yang idealis dan yang materialis. Maka yang idealis merasa sudah ada pelacuran dunia iptek dengan mengabdi pada pemerintah dengan badan intelijen-nya yang memberi dana besar kepada Citraksi Laboratories. Prof Hasan, berbalik kepada idealisme. Ia yang tahu penyelewengan ilmu untuk kepentingan politik membongkar kebusukan dan kebejatan proyek raksasa ini. Dia yang turut proyek Chimera, hengkang dan bermaksud menggagalkan proyek yang makan korban para aktivis yang diubah memorinya dengan serum Chimera. Gunawan Budi Raharjo, Aldo, adalah nama-nama aktivis yang jadi sasaran dan kelinci percobaan Chimera. Dengan serum Chimera mereka 'disulap' jadi penjahat agar mudah dilenyapkan secara halus. Dan kini Profesor Hasan yang berperan mengembalikan jati diri mereka. Berhadapanlah orang Chimera yang masih setia pada proyek keji pemerintah melawan orang Chimera yang sadar dan membangkang.

Setting pada jaman Indonesia tahun 2020 memungkinkan semua teknologi itu dikembangkan dan terjadi. Namun ada suatu kelemahan terjadi, pada saat Aldo atau Gunawan atau siapa namanya yang dikacaukan ingatannya, ia bingung tentang lambang-lambang huruf Yunani yang aneh, dan tentang nama Chimera sendiri. Untuk mengatasi kebingungan ini mestinya ia dengan mudah mencari jawab. Pada masa Indonesia 2020 yang teknologi sudah begitu maju, ia malah cari-cari jawab dari kamus. Kan mestinya tinggal klik google dan tanya, semua sudah tersedia. Tapi ia malah bingung dan cari di buku kamus atau ensiklopedia, padahal jelas yang ditulis pengarang Chimera adalah kondisi yang ada internet di kantor majalah Inspirasi itu. Jadi kurang tergambarkan suasana dan jaman modern. Tapi gak bisa disalahkan, jaman memang tumpuk-tumpuk kondisi antara yang maju, berkembang dan terbelakang.

Kondisi yang diangkat Donny sebagai latar memang jelas-jelas kondisi Indonesia pada jaman pasca reformasi dan berlanjut masa sesudahnya. Nama-nama yang dipakai orang dalam tokoh di Chimera dengan mudah pembaca tahu siapa yang dimaksud sesungguhnya di Indonesia yang bukan fiksi ini. Sebutlah misalnya di Chimera ada nama pelukis Agung Kliwon, jelas itu adalah diambil dari tokoh pelukis Agus Wage, dan banyak nama lain. Sekali lagi itu adalah sah dan merdeka untuk tulisan kreatif.

Dan Donny sudah merangkai kehidupan nyata di Indonesia dalam dunia Indonesia di fiksinya. Kalau boleh beristilah tinggal mengubah nama, memindahkan kenyataan, menggabung dan merangkai dengan apa yang ada, menjadi suatu dunia fiksi sendiri. Itu memang salah satu metode menulis fiksi, juga fiksi yang ada muatan iptek di mana Chimera sendiri merupakan serum bioteknologi rekayasa genetika. Namun untuk memasukkannya dalam dunia fiksi ilmiah, ia perlu diperkuat lagi, guna mendudukan posisi genre Chimera sebetulnya di mana. Kalau menurut penulis, jelas genre yang paling kuat untuk Chimera adalah genre seperti yang dimaui oleh film-film yang dimaksud awal tulisan ini.

Selamat membaca, dan nikmati pembacaan Chimera. Temukan sendiri kenikmatan membacanya...

No comments:

Post a Comment