Tuesday, November 2, 2010

TURQUOISE, Titon Rahmawan




Judul Buku: Turquoise : Kisah Sang Singa Perkasa Dari Kohina [Buku Rekomendasi]
Pengarang: Titon Rahmawan
Jenis Buku: Novel
Penerbit: Escaeva
Tahun Cetakan 1: 2007
______________________

Cinta, Persahabatan, Harta dan Rasio Titon

Oleh: Yonathan Rahardjo, Endorsement buku

"Karena cinta, persahabatan jadi sirna. Karena cinta harta, cinta jadi binasa. Karena kalap cinta, rasio tidak bicara. Sang penulis, Titon Rahmawan menuliskannya dengan gaya bertutur yang memainkan perasaan dan hati. Beberapa adegan menampakkan kejutan, secara runtut perlu dibaca dengan cermat untuk mendapatkan efek penggambaran suasana dan peristiwa."
Perkawanan sejak berumur anak-anak tiga pemuda dengan satu gadis harus pecah karena ketiga pemuda memperebutkan sang gadis. Perbedaan derajat ketiga pemuda, tidak menyurutkan cinta Sang gadis, Shrivasthi, dengan pemuda yang paling rendah derajad sosialnya, Husayn. Meski, Si gadis berderajad sosial sama tinggi dengan salah satu pemuda lain, Qadrii, yang juga cinta padanya.


Cinta gadis dengan pemuda paling rendah derajad sosial itu, membawa kisah tragis, melibatkan batu permata Turquoise, pirus, yang diberikan gadis kepada masing-masing pemuda dengan besar belahan yang sama sebagai ganti hadiah dari pemuda yang dicintainya berupa bunga gunung yang didapatkan dalam kemenangan lomba antar tiga pemuda itu.

Husayn dan ayahnya yang penjaga kuda diusir dari rumah Shrivasthi, namun ditolong oleh pemuda ke dua, Hasyim, untuk menjadi prajurit. Kisah-kisah melibatkan penyamun-penyamun kota yang berhasil dibunuh Husyain hingga gembongnya dan penyihir. Husayn dan Hasyim menjadi satria yang melawan mereka. Padahal, perampok tadi dibayar 30 ekor kuda oleh Qadrii untuk membunuh orang tua Shrivasthi, setelah gadia ini mati tenggelam di danau untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman Qadrii.

Kisah di masyarakat padang gurun Timur Tengah mengandung nilai-nilai keadilan sosial yang diperjuangkan oleh Husayn, yang membela masyarakat kampungnya yang miskin sementara dalam kemelaratan mereka keluarga Qadrii bergelimang kemewahan!

Husayn pulang kampung, mendapat mimpi ditemui arwah Shrivasthi yang menunjukkan kematiannya disebabkan oleh qadrii, dan ia minta balas dendam. Pemuda ini terlecut untuk membunuh Qadrii dan dilakukannya, namun tergagalkan oleh bangunnya Qadrii mengundang semua pengawalnya termasuk teman main Husayn waktu kecil yang menjadi pengawal Qadrii.

Pembunuhan yang gagal mengundang hadirnya Kepala Polisi yang ternyata Hasyim, sahabatnya sendiri. Berkat batu Turquoise, yang terkalungkan di leher Qadrii yang jumlahnya ada dua, Hasyim pun menduga kematian Shrivasthi oleh karena ulah Qadrii. Namun Hasyim harus menegakkan hukum, sementara bukti-bukti pembunuhan oleh Hasyim yang menyebabkan kematian Shrivasthi tidak jelas.

Hidup Husayn berakhir di tangan Hasyim yang mewasiatkan batu Turquoise harus disimpannya, sebagai tanda paling bersejarah tentang persahabatan mereka berempat yang berakhir tragis.

Karena cinta, persahabatan jadi sirna. Karena cinta harta, cinta jadi binasa. Karena kalap cinta, rasio tidak bicara. Sang penulis, Titon Rahmawan menuliskannya dengan gaya bertutur yang memainkan perasaan, hati, beberapa adegan menampakkan kejutan, secara runtut perlu dibaca dengan cermat untuk mendapatkan efek penggambaran suasana dan peristiwa.

Pengisahan dengan bertutur memang diawali dengan cerita kakek tua, Hasyim, kepada anak-anak, tentang masa lalunya bersama tiga sahabatnya itu, mengalir ke kisah demi kisah itu, dan diakhiri dengan petuah juga oleh Hasyim tua kepada anak-anak untuk mengambil intisari moral cerita, yang tentu untuk semua pembaca dari berbagai kalangan. 

No comments:

Post a Comment